Kamis, 25 Desember 2008

Aku memandang nyalang, pada manusia lalu lalangKulihat, tanpa sedikitpun segan, mereka menggamitkan jemari tanganKata cinta menguar di angkasa, menghayutkan gemawan megaMangaburkan keindahan bintang gemintang, panji dan agungnya bentaraNamun di sini, berdiri aku dalam keraguanTak mengerti dan terus bertanya :Apakah segalon cinta lebih manis ketimbang sececap cita?Dan apakah bahagia terwujudi harus dengan dimiliki?Dan apakah seorang pangeran hanya dapat menjadi raja,Pabila mempersandingkan permaisuri di sisinya?Dan tanya itu menggiringku masuk ke dalam labirin tuaLorong pekat penuh lembap yang dindingnya berkeropeng dustaPenuh tipu daya, tiap simpangannya menyesatkan pengelanaAku ikuti setitik cahya, dan kulihat jawab di ujungnyaAku bertanya lantang, “Wahai, apakah itu cinta?”Kulihat sepasang muda-mudi bergelayutan mesraSang gadis tertawa mengikik, sang pemuda menggeliat laknatSahutnya, cinta adalah hari iniYang tergantikan segera oleh hari esokDia adalah kesenangan yang berkelindan selaluBirahi yang terpuaskan, nikmat yang berseliweranAku tercenung, dan terus termenungJika cinta adalah pesta pora, lalu apa arti cerita MajnunCinta baginya adalah kisaran deritaTetapi Majnun hanya tahu itu cinta, walau dia butaOh, betapa takdir cintanya berakhir nestapaAku berpaling dari mereka yang mencemooh nakalLalu aku pergi menuju ujung lain lorong teka-tekiKuikuti suara-suara merdu, tawa, dan musik syahduWalau gelap pekat, suara itu menuntunku pastiDan akhirnya kulihat panggung megah berdiri kokohDipenuhi penyair dan pujangga sepanjang masaDadaku serasa bergolak, aku menyeruak dan berteriak, “Wahai apakah itu cinta?”Seorang pujangga menoleh, berdiri, dan menjawab panggilanku lalu mulai bersyair,Cinta adalah roman tanpa batasInspirasi yang takkan mati; Api yang takkan padamYang geloranya membuatmu remuk redamTapi, bagai kecanduan, kau akan terus menyesapnyaMembuatmu merasa terbang menuju menuju mentari yang menyala perkasaSekali lagi, keraguan menyelinap dan membisikMestikah begitu, sebab kulihat nyala sangat redupMenyambangi jalinan pernikahan yang suciGairah sejoli telah berakhir, tapi tidak memupus ikatannyaTapi mereka masih menyebutnya cintaWalau madunya telah habis, Sang kumbang masih hinggap di atas kembangAku melengos tak puas, dan berjalan tak tahu ke manaKususuri lorong berliku, begitu panjang jalanan, begitu terjal undakanDan pada satu tangganya, kulihat seorang pengemis renta mengharap dermaDia berkata, “berikanlah milikmu yang terbaik, dan kusampaikan kebijaksanaanku”Aku sebenarnya tak ingin percaya, tapi kakiku terlalu letih mencari jawabKuulurkan sebongkah batu mirah sembari bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”Si pengemis diam dalam takzim, dan menjawab,Cinta adalah menghamba tanpa bertanyaKetaatan tanpa memerlukan jawabanKau memuja, dan menjadikan dirimu budak dengan sukarelaKata-kata cinta adalah perintah yang tiada terbantahAku terpekur dan tak henti berpikirJika cinta merupakan penghambaan, lalu apa arti cinta Ilahi?Dia yang menurunkan hujan, dan lebih agung dari apapun juaDia yang memberikan rizki kepada orang paling durjana sekalipunDia yang mencintai makhluk-Nya, dan tak memerlukan apapun dari makhluk-NyaAku merasa rugi atas permata yang terbuang percumaIni bukanlah kebijaksanaan; melainkan kedunguan!Cinta si pengemis selamanya menjadikan dirinya pengemisYang mengiba, meminta, dan mengharap sejumput kasihJika ini dinamakan cinta, maka terkutuklah kata cinta!Aku muak atas pencarian ini, lalu memutuskan keluarLabirin tua tak lagi mengurungku, dan bau laut seakan memanggilkuIni adalah aroma kebebasan yang menarik para pemberaniDan seperti cerita lama, aku berlayar menuju samudera berombak, –sendiriAngin kencang membantu lajuku, dan kapalku menuju horizon di tapal batasMencari dunia baru untuk ditaklukkanDi ujung dek aku berteriak penuh kegembiraanWalau kegembiraan itu kadang dibayar oleh rasa hampa di tengah lautanOh, tahun-tahun berselang; musim-musim berganti datangWaktu-penuh-kenangan yang berkandung duka dan sukaNamun, pada suatu hari yang mengejutkanBadai datang menenggelamkan apa yang tersisaAku lihat puing-puing yang karam, dan onggokanSementara aku hanyut ditemani tongkang yang terombang-ambingEntah mengantarkanku ke manaDi suatu tempat, saat aku membuka matakuAku rasai pasir lembut yang harum baunyaDan riak ombak bermain-main di sekujur tubuhkuApakah ini tanah orang- orang mati, ataukah aku masih hidup?Oh, betapa hausnya aku…seteguk air akan mengobatikuDan, aku lihat sesosok datang mendekatSorot matanya menatapku lekatLalu menuangkan seteguk air pada bibirku yang kekeringan sangatPandanganku terasa kabur, dan dunia terasa berputar begitu cepatAku berharap dia adalah malaikat tak bersayap yang memberikan jawabAku merasa maut sebentar lagi menjemput,Jadi tak ada salahnya bertanya, toh rasa malu akan terbawa laluSetelah sekian lama, sekali lagi aku bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”Dia termangu,dan hanya tersenyumUntuk menenangkan jiwaku yang sekarat, dia menatapku lembutDan kata-kata bagai menetes dari mulutnyaKata-kata serasa madu yang manisnya teringat selalu, Jawabnya :Cinta bukanlah benda untuk dimilikiTetapi tindakan untuk diperjuangkanCinta adalah kebaikan tanpa imbalanPernahkah mentari bertanya padamu atas sinarnya yang terangDan pernahkah pepohonan meminta jawaban atas keteduhannyaJika kau memberikan segelas air pada orang asing,Dan dia tak berhutang padamu apapunItulah cinta.Bagaikan petani, kau menanam benihnyaLalu orang lain memakan buahnya, menghilangkan rasa laparnyaTetap ingatlah, cinta adalah pilihan hatimuBukan keterpaksaan dari rasa takutSebab cinta tidak pernah membuatmu merasa kehilanganDia terus membuat hatimu merasa kayaNamun, sungguh dunia telah tercerai berai,Dan manusia menjadi tersesat oleh makna cintaTergelincir keserakahan, cinta menjadi memabukkanUntuk memiliki, bukannya memberikanUntuk menguasai, bukannya mengasihiJika cinta tinggallah nafsu diri belakaYang tersisa hanyalah kerusakan semataTiada peduli sesama; Semuanya mengagungkan diri juaOrang menamakannya cinta; tapi itu hanyalah dustaHari itu, aku tahuBahwa perjalananku bukannya berakhir,Tetapi baru saja dimulaiLalu aku mengatup mataDan mulai mendoaUntuk satu pilihan kata di hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar